Sisarikan dari : Majalah Qiblati, Edisi 1 Tahun VIII, hal. 68.

Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri, madi, dan bersalin pakaian.

Sejenak sebelum masuk ke ruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, “Kenapa lama sekali dokter! Tidak tahukan anda anak saya sedang kritis? mana tanggung jawab anda sebagai dokter”. Continue reading “Hati Yang Diam Kala Terluka”

Advertisements