أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ
“Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (HR. Muslim no. 653)

 jika dihadist tersebut menyebutkan tentang seorang yang buta, maka  saya melihat seorang yang puntung kakinya. Adzan untuk sholat Maghrib sudah dikumandangkan, maka sayapun bergegas mengambil kontak sepeda motor dan langsung pergi menuju masjid, setibanya dimasjid sholat sudah dimulai, shaf pertama dan kedua sudah mulai penuh tetapi saya lihat ada celah kosong disalah satu ujung shaf kedua, segeralah saya masuk untuk memenuhi shaf kedua tersebut, setelah jelang beberapa saat saya mulai sadar seorang Fulan yang berdiri didepan saya, sholat yang saya lakukan seolah terkacaukan karena pandangan didepan saya membuat saya bertanya, kenapa bukan aku sih yang dishaf pertama? ,kenapa aku yang lebih lengkap mungkin lebih cepat untuk bergegas kemasjid berada dishaf kedua? mungkin aku kurang memanfaatkan nikmat yang telah Allah subhanahu wata’ala berikan kepadaku? Apakah harus kakiku puntung terlebih dahulu baru aku akan semangat untuk menunaikan sholat berjamaah sehingga ada di shaf pertama?

images (3)maka saat itupun sholat saya menjadi tidak konsentrasi.  Saat rukukpun saya sedikit melihat ke arah kedua kaki saya sambil berkata dalam hati “aku punya dua dan ini sudah lengakap, apakah aku kurang bersyukur dibanding dengan orang yang didepanku ini?”, imampun bertakbir  untuk sujud, maka semua makmupun ikut sujud “tidakkah aku sujud kepada Rabb yang sama dengan orang didepanku?”, saat bertakbir untuk berdiri setanpun membuat pandanganku menjadi tertuju kepada Fulan yang puntung kakinya, fulan ini berdiri disaat kedua saudaranya yang berada disamping kanan dan kirinya telah berdiri maka diapun mulai berdiri, tidak ada yang membantunya berdiri dengan segera di menghentakkan kakinya dengan bantuan kedua tangannya untuk berdiri kembali. Begitulah seterusnya sampai sholat selesai, setelah akhir sholat saya melihat tongkat yang dibawa oleh Fulan ini, tongkatnya sederhana terbuat dari besi yang tidak cat, saya memegang tongkat dengan harapan saat Fulan ini berdiri saya bisa memberikan tongkat padanya hanya sekedar membantu saja, selang beberapa saat teman saya menghampiri dan sayapun sudah lupa dengan niat yang ingin saya lakukan tadi.

APAKAH MASIH MAU KITA MENINGGALKAN SHOLAT BERJAMA’AH DIMASJID KARENA URUSAN KEDUNIAWIAN? PADAHAL SHOLA BERJAMA’AH DIMASJID ITU WAJIB BAGI LAKI-LAKI KECUALI ADA UDZUR (tidakkah fulan ini mengetahui hukum tersebut atau dia tidak mengetahui tapi dia tahu pahala sholat berjama’ah dibanding sholat sendiri dirumahnya, bagaimana dengan kita?)

APAKAH KITA TIDAK TERGIUR DENGAN FADHILAH-FADHILAH YANG TERDAPAT DISHAF PERTAMA?

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk bisa menunaikan sholat berjama’ah dimasjid, aamiin

Advertisements